Tangerang, 1 November 2025 – Gema selawat dan zikir memenuhi udara Kota Tangerang saat Pengurus Wilayah Jam’iyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah Ahlussunnah wal Jama’ah (PW JATMA ASWAJA) Provinsi Banten resmi dilantik untuk masa khidmat 2025–2030. Bertempat di Pondok Pesantren Daarussa’adah, acara ini dirangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Zikir Kebangsaan yang berlangsung khidmat.
Perhelatan agung ini dihadiri oleh jajaran tokoh nasional, di antaranya Dr. (H.C.) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya (Rois ‘Aam PB JATMA ASWAJA) dan Dr. (H.C.) H. Helmy Faishal Zaini, M.Si (Sekretaris Jenderal PB JATMA ASWAJA), serta barisan ulama dan habaib dari berbagai penjuru tanah air.
Thariqah sebagai Rumah Besar Keumatan
Bagi PW JATMA ASWAJA Banten, momen ini bukan sekadar pergantian struktur organisasi, melainkan peneguhan komitmen untuk merajut ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah.
KH. Sehabuddin, Ketua PW JATMA ASWAJA Banten terpilih, menegaskan bahwa pelantikan ini adalah panggilan moral untuk menghadirkan nilai-nilai thariqah di tengah dinamika masyarakat modern.
“Kami bertekad menjadikan JATMA ASWAJA Banten sebagai rumah besar bagi para pengamal thariqah yang mampu menyelaraskan dzikir dan pikir. Di tengah arus informasi yang kencang, thariqah harus hadir sebagai peneduh, membawa risalah Ahlussunnah wal Jama’ah yang rahmatan lil ‘alamin,” ungkapnya.
Beliau juga menyoroti pentingnya adaptasi digital. Menurutnya, thariqah tidak boleh eksklusif, melainkan harus bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat untuk membentengi umat dari polarisasi sosial melalui pendekatan Islam yang moderat.
Islam yang Ramah, Bukan Marah
Senada dengan hal tersebut, Dr. (H.C.) H. Helmy Faishal Zaini dalam arahannya menekankan bahwa JATMA ASWAJA adalah “jantung spiritual” yang bertugas menjaga warisan luhur bangsa.
“Pelantikan ini adalah ikrar pengabdian untuk terus menyebarkan wajah Islam yang ramah, bukan marah. Adab, cinta tanah air, dan kasih sayang adalah napas dari gerakan ini,” tegas Helmy Faishal. Ia juga berpesan agar teknologi dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana dakwah dan penguatan solidaritas sosial tanpa mengikis esensi spiritualitas.









